CRETIVE INSIGHT #049

Hanifah Silmi Az Zahra Last updated 

Hi,


Kali ini kita akan bedah 3 ads creative dari kategori longevity, hydration, dan fragrance.


Ketiganya tidak membuka iklan dengan diskon.


Mereka masuk lewat cara yang berbeda.


Creative pertama menjual sains.


Creative kedua membalik asumsi audiens.


Creative ketiga menyerang hal yang sudah membuat pembeli parfum lelah.


Kita belum melihat data spend, CTR, atau ROAS dari ketiga iklan ini. Jadi pembahasan kali ini fokus pada pola komunikasi yang berpotensi membuat creative lebih mudah dipahami dan diingat.


Creative 01

d.jpg
d.jpg Download

1. Apa yang sudah bagus dari iklan ini?

a. Bahan aktif dijadikan tokoh utama


Creative membuka dengan ilustrasi molekul dan tulisan:


“Urolithin A.”


Biasanya nama bahan aktif diletakkan kecil di bagian bawah.


Di sini, molekulnya justru dijadikan pusat cerita.


Pendekatan ini membuat produknya terasa serius, berbasis riset, dan berbeda dari suplemen yang hanya menjual janji umum.


Audiens tidak langsung diajak membeli produk.


Mereka dikenalkan dulu pada satu hal yang dianggap menjadi alasan produk tersebut bekerja.


b. Headline menghubungkan sains dengan hasil yang diinginkan


Kalimat:


“This molecule is shown to help skin resist aging factors.”


menerjemahkan bahan aktif menjadi manfaat yang lebih relevan.


Audiens mungkin tidak memahami Urolithin A.


Mereka memahami keinginan agar kulit lebih kuat menghadapi faktor penuaan.


Creative ini membuat alur yang sederhana:


Ini molekulnya.


Ini namanya.


Ini fungsi yang ingin ditonjolkan.


Audiens tidak dipaksa memahami penjelasan biologis yang panjang.


c. Pembuktian ditempatkan dekat dengan klaim


Di bagian bawah ada kalimat:


“Clinically proven, patented Urolithin A.”


Penempatan ini membantu mengurangi keraguan yang muncul setelah headline besar.


Brand tidak hanya mengatakan bahan tersebut menarik.


Mereka memberi dua sinyal kepercayaan:


Sudah diuji secara klinis.


Memiliki bentuk bahan yang dipatenkan.


Untuk produk kesehatan dan longevity, unsur pembuktian seperti ini punya peran besar karena klaim produknya tidak selalu bisa dirasakan seketika.


d. Desainnya terasa seperti jurnal sains yang dibuat lebih mudah dibaca


Background terang.


Garis molekul tipis.


Warna merah digunakan sebagai aksen.


Headline besar mengisi sebagian besar frame.


Creative ini tidak terlihat seperti poster laboratorium yang rumit.


Tetap ada kesan sains, tetapi tampilannya bersih dan modern.


Hal ini membantu brand terasa kredibel tanpa terlihat terlalu kaku.


2. Dari sisi strategi copywriting

CEP: Situasi Aspirasi Diri.

Produk masuk ketika audiens ingin menjaga kondisi tubuh dan kulit agar tetap baik seiring bertambahnya usia.


CEP tambahan: Situasi Masalah atau Frustrasi.

Audiens mulai melihat perubahan pada kulit dan merasa produk yang dipakai selama ini hanya bekerja di permukaan.


Angle: Perlindungan Diri dan Rasa Aman.

Produk diposisikan sebagai dukungan untuk membantu kulit menghadapi faktor yang berkaitan dengan penuaan.


Angle tambahan: Lebih Unggul.

Bahan yang dipatenkan dan klaim klinis membuat produk terasa lebih maju dibanding suplemen dengan bahan yang tidak dijelaskan secara rinci.


Hook: Data Driven, Authority Drop, dan Big Claim.

Ilustrasi molekul memberi kesan data dan riset.

Kalimat “clinically proven” membawa otoritas.

Headline mengenai skin aging menjadi klaim utama yang menarik perhatian.


Creative ini cocok untuk Solution Aware dan Product Aware.

Audiensnya kemungkinan sudah memahami kategori longevity, healthy aging, atau suplemen kecantikan dari dalam.


Creative ini masih bisa diperkuat dengan penjelasan yang lebih manusiawi.

Istilah Urolithin A memang memberi kesan ilmiah, tetapi cold audience mungkin belum memahami kenapa molekul tersebut relevan bagi mereka.


Klaim “clinically proven” juga perlu disertai konteks yang jelas di landing page.

Misalnya:

Apa yang diuji.

Siapa pesertanya.

Berapa lama durasinya.

Hasil apa yang ditemukan.

Creative boleh sederhana.

Bukti lengkap tetap harus mudah ditemukan.


IMPLEMENTASI UNTUK KITA TESTING

A. Jadikan satu bahan sebagai pusat cerita


Jangan menampilkan tujuh kandungan dalam satu creative.


Pilih satu bahan yang paling kuat hubungannya dengan manfaat utama.


Formula universal:


“Ini bahan utamanya. Ini perannya. Ini alasan ia relevan.”


Contoh skincare:


“Ceramide. Lipid yang membantu menjaga lapisan pelindung kulit.”


Contoh FNB:


“Oat beta glucan. Serat yang membantu sarapan terasa lebih mengenyangkan.”


Contoh haircare:


“Peptide. Bahan yang dipilih untuk membantu merawat rambut rapuh.”


Contoh digital product:


“Auto reconciliation. Fitur yang mencocokkan data tanpa pengecekan satu per satu.”


Satu bahan atau fitur lebih mudah diingat daripada daftar yang terlalu panjang.


B. Terjemahkan istilah teknis menjadi manfaat manusia


Jangan berhenti pada nama bahan.


Hubungkan dengan kondisi yang ingin dirasakan audiens.


Contoh:


“Niacinamide 5 persen untuk kulit yang terlihat lebih merata.”


“Memory foam untuk duduk yang terasa lebih nyaman saat bekerja lama.”


“Enkripsi otomatis untuk file yang tidak mudah diakses sembarang orang.”


“Filter otomatis untuk data yang lebih cepat diperiksa.”


Bahasa teknis membangun kredibilitas.


Manfaat membantu audiens memahami kenapa mereka harus peduli.


C. Tempatkan proof tepat setelah claim


Formula visual:


Claim besar.


Penjelasan singkat.


Bukti kecil di bawahnya.


Contoh:


“Nyaman dipakai sampai malam.”


“Diuji pada 100 pengguna selama 8 jam.”


Atau:


“Membantu laporan selesai lebih cepat.”


“Rata rata waktu pengerjaan turun dari 45 menit menjadi 18 menit.”


Gunakan angka dan hasil yang benar benar dimiliki.


D. Gunakan visual scientific tanpa membuat audiens pusing


Elemen visual yang bisa dites:


Diagram sederhana.


Satu bahan yang diperbesar.


Potongan struktur.


Garis penunjuk.


Label singkat.


Hindari menaruh terlalu banyak grafik atau istilah di satu frame.


Creative perlu terlihat cerdas.


Tetap harus bisa dimengerti dalam beberapa detik.


Creative 02

e.jpg
e.jpg Download

1. Apa yang sudah bagus dari iklan ini?

a. Format reminder membuat iklan terasa familiar


Creative memakai tampilan seperti aplikasi pengingat.


Ada tiga pilihan:


“Not more caffeine.”


“Not more willpower.”


“Just minerals I was missing.”


Format ini terasa seperti catatan pribadi.


Bukan seperti brand yang sedang memberi ceramah.


Audiens sudah familiar dengan checkbox, reminder, dan pilihan jawaban.


Karena itu, pesan iklan lebih mudah dibaca tanpa terasa terlalu formal.


b. Copy membalik asumsi yang umum


Ketika energi turun, banyak orang berpikir mereka butuh kopi.


Ketika sulit konsisten, mereka menganggap masalahnya adalah kurang niat.


Creative ini menawarkan kemungkinan lain:


Tubuh mungkin membutuhkan mineral dan hidrasi.


Pendekatan ini menarik karena tidak langsung menjual produk.


Iklan lebih dulu menggoyang cara audiens melihat masalah.


Mereka diajak berpikir:


“Mungkin selama ini aku menyelesaikan masalah yang salah.”


c. Produk ditempatkan dalam situasi sehari hari


Visual menunjukkan suasana duduk santai di kafe.


Ada kopi.


Ada minuman dengan lemon.


Ada tangan yang memegang gelas.


Creative tidak menampilkan produk di studio.


Produk dimasukkan ke momen yang dekat dengan rutinitas audiens.


Pesannya menjadi lebih mudah dibayangkan:


Saat orang lain mengambil kopi lagi, ada pilihan minuman lain untuk mendukung hidrasi.


d. Garis dan panah membantu mengarahkan mata


Panah dari kotak reminder mengarah ke minuman.


Di samping gelas ada tulisan:


“Cellular hydration electrolyte formula.”


Elemen ini membantu menghubungkan insight dengan solusi.


Audiens tidak hanya membaca bahwa mereka membutuhkan mineral.


Mereka langsung ditunjukkan bentuk solusi yang dimaksud.


2. Dari sisi strategi copywriting

CEP: Situasi Fisik dan Kenyamanan.

Produk masuk ketika audiens merasa lelah, kurang segar, sulit fokus, atau merasa tubuhnya membutuhkan sesuatu.


CEP tambahan: Situasi Momen Rutinitas.

Creative menggunakan konteks minum di pagi atau siang hari, ketika audiens biasanya mengambil kopi.


Angle: Rutinitas Lancar dan Hidup Nyaman.

Produk diposisikan sebagai bagian kecil dari rutinitas yang membantu tubuh terasa lebih siap menjalani hari.


Angle tambahan: Bebas Cemas.

Kalimat “not more willpower” mengurangi rasa bersalah karena audiens merasa tidak cukup disiplin.


Hook: Wrong Assumption dan Against The Common Advice.

Iklan menantang dua asumsi:


Masalahnya bukan selalu kurang kafein.


Masalahnya bukan selalu kurang kemauan.


Twist-nya ada pada kalimat:


“Just minerals I was missing.”


Creative ini cocok untuk Problem Aware dan Solution Aware.

Audiens sudah mengenali kondisi seperti cepat lelah atau kurang fokus, tetapi belum tentu menghubungkannya dengan hidrasi.


Creative ini masih bisa diperkuat dengan konteks masalah yang lebih spesifik.

“Minerals I was missing” terdengar menarik, tetapi bisa terasa terlalu menyederhanakan penyebab kelelahan.


Tidak semua rasa lelah disebabkan oleh kekurangan mineral.


Copy bisa dibuat lebih aman dan tetap kuat dengan bahasa seperti:


“Sometimes another coffee is not what I need.”


Atau:


“A hydration habit I kept overlooking.”


Produk juga perlu terlihat lebih jelas pada versi berikutnya.


Creative ini kuat sebagai insight.

Sebagai iklan conversion, audiens masih membutuhkan bentuk produk, cara pakai, dan manfaat utamanya.


IMPLEMENTASI UNTUK KITA TESTING

A. Pakai format aplikasi yang sudah dikenal audiens


Format familiar membuat iklan terasa seperti konten biasa.


Beberapa format yang bisa dites:


Checklist.


Reminder.


Catatan ponsel.


Kalender.


Chat.


Pencarian Google.


Alarm.


Contoh fashion dalam format reminder:


“Reminder.


Tidak perlu beli baju baru.


Coba padukan ulang warna netral yang sudah ada.”


Contoh skincare:


“Reminder.


Kulit terasa kering belum tentu butuh lebih banyak produk.


Kadang rutinitasnya perlu dibuat lebih sederhana.”


Contoh digital product:


“To do hari ini.


Berhenti salin data manual.


Aktifkan laporan otomatis.”


B. Mulai dari solusi yang biasa dicoba audiens


Formula universal:


“Bukan solusi lama. Bukan usaha yang lebih keras. Ada hal lain yang terlewat.”


Contoh:


“Bukan tambah diskon.”


“Bukan tambah konten.”


“Mungkin penawaranmu belum cukup jelas.”


Contoh skincare:


“Bukan tambah exfoliating.”


“Bukan tambah serum.”


“Mungkin skin barrier sedang butuh istirahat.”


Contoh fashion:


“Bukan tambah aksesori.”


“Bukan ikut semua tren.”


“Mungkin potongannya belum sesuai bentuk badan.”


Pola ini bisa menghentikan scroll karena audiens merasa keyakinannya sedang dipertanyakan.


C. Hubungkan insight dengan situasi nyata


Jangan menampilkan copy tanpa konteks penggunaan.


Contoh:


Minuman ditampilkan di meja kerja.


Suplemen ditampilkan di samping bekal.


Skincare ditampilkan di wastafel malam hari.


Fashion ditampilkan ketika bersiap pergi.


Tools ditampilkan saat layar penuh file.


Situasi membuat audiens lebih mudah mengenali kapan produk dibutuhkan.


D. Jaga agar twist tidak terasa terlalu mutlak


Hindari kalimat:


“Masalahmu pasti karena ini.”


Lebih aman dan terasa lebih jujur menggunakan:


“Mungkin ada hal yang belum kamu perhatikan.”


“Kadang solusi yang dicari bukan tambah ini.”


“Bisa jadi rutinitasmu butuh pendekatan lain.”


Copy tetap membuka rasa penasaran tanpa membuat klaim yang terlalu jauh.


Creative 03

f.jpg
f.jpg Download


1. Apa yang sudah bagus dari iklan ini?

a. Daftar masalah langsung menyaring audiens


Creative membuka dengan lima hal:


Overpriced designer bottles.


Smelling like everyone else.


Paying for labels.


Fading fast.


Regret at checkout.


Semua kalimat dicoret dengan garis merah.


Dalam beberapa detik, audiens langsung memahami siapa yang sedang diajak bicara:


Orang yang suka parfum, tetapi lelah dengan harga, popularitas aroma yang terlalu umum, dan performa yang mengecewakan.


Iklan tidak memulai dengan nama parfum.


Iklan memulai dengan alasan kenapa orang ingin mencari alternatif.


b. Coretan merah menjadi pattern break


Secara visual, garis merah membuat mata berhenti.


Coretan memberi pesan bahwa brand ingin menghapus pengalaman lama.


Audiens tidak perlu membaca penjelasan panjang untuk memahami maksudnya.


Hal yang tidak disukai dicoret.


Hasil yang diinginkan ditempatkan setelahnya.


Elemen visual dan copy membawa pesan yang sama.


c. Headline utamanya singkat dan mudah diingat


“Smell iconic. All day.”


Kalimat ini membawa dua benefit sekaligus.


Aromanya punya karakter.


Aromanya bertahan lama.


Brand tidak mengatakan:


“Kami punya parfum dengan formulasi berkualitas.”


Mereka menjual hasil yang ingin dirasakan audiens saat memakai parfum.


Merasa punya aroma yang berkesan.


Tidak perlu terus menyemprot ulang.


d. Produk tetap terlihat jelas


Tiga botol ditampilkan besar di bagian bawah.


Audiens bisa melihat bentuk kemasan dan beberapa pilihan varian.


Creative ini tetap product led.


Setelah masalah dan janji disampaikan, produknya langsung muncul sebagai jawaban.


Tidak ada elemen dekoratif yang mengganggu fokus.


2. Dari sisi strategi copywriting

CEP: Situasi Masalah atau Frustrasi.

Produk masuk ketika audiens merasa parfum mahal tidak sesuai ekspektasi, aromanya terlalu pasaran, atau ketahanannya mengecewakan.


CEP tambahan: Situasi Sosial dan Aspirasi Diri.

Audiens ingin memiliki aroma yang berkarakter dan membuat mereka lebih mudah diingat.


Angle: Makin Menarik dan Lebih Unggul.

Produk dijual sebagai cara untuk memiliki aroma yang terasa ikonik tanpa masalah yang biasa ditemui saat membeli parfum desainer.


Angle tambahan: Puas Maksimal.

Creative menyinggung penyesalan setelah checkout dan menawarkan pengalaman membeli yang terasa lebih sepadan.


Hook: Pattern Break, Pain Amplification, dan Against The Common Advice.

Coretan merah menjadi pattern break.

Daftar masalah memperbesar rasa frustrasi.

Pesannya menantang kebiasaan membayar mahal untuk botol dan label.


Creative ini cocok untuk Problem Aware dan Solution Aware.


Audiens sudah menyukai parfum, tetapi sedang mencari pilihan yang lebih masuk akal.


Creative ini masih bisa diperkuat dengan product reason.

Kalimat “smell iconic all day” menarik, tetapi belum menjelaskan kenapa produk bisa memberi hasil tersebut.


Brand dapat menambahkan:

Konsentrasi parfum.

Jumlah jam ketahanan berdasarkan pengujian.

Profil aroma.

Perbandingan harga.

Review pelanggan.

Kata “iconic” juga cukup subjektif.

Visual atau copy lanjutan perlu membantu audiens memahami karakter tiap aroma.


IMPLEMENTASI UNTUK KITA TESTING

A. Coret hal yang sudah membuat audiens lelah


Formula visual:


Daftar pengalaman buruk.


Coret satu per satu.


Tutup dengan hasil baru.


Contoh skincare:


Kulit terasa lengket.


Makeup mudah geser.


Terlalu banyak langkah.


“Moisture yang terasa ringan sampai malam.”


Contoh fashion:


Bahan panas.


Potongan gampang berubah.


Sulit dipadukan.


“Pakai berulang tanpa terasa membosankan.”


Contoh digital product:


Input manual.


File tercecer.


Data tidak sinkron.


“Semua laporan dalam satu dashboard.”


B. Gunakan masalah dalam bahasa pelanggan


The Essence Vault tidak menulis:


“Harga produk kompetitor kurang kompetitif.”


Mereka menulis:


“Regret at checkout.”


Kalimat itu lebih dekat dengan pengalaman pembeli.


Contoh universal:


Skincare: “Sudah mahal, tetap bikin kulit rewel.”


Fashion: “Bagus di model, aneh pas dipakai sendiri.”


FNB: “Kelihatannya banyak, ternyata isinya angin.”


Digital product: “Bayar tools baru, kerjaan tetap manual.”


Cari kalimat yang benar benar mungkin diucapkan pelanggan.


C. Padatkan janji menjadi dua hasil


Formula:


“Dapatkan hasil pertama. Rasakan hasil kedua.”


Contoh:


“Terlihat rapi. Sampai malam.”


“Rasa penuh. Tidak bikin enek.”


“Laporan beres. Tanpa lembur.”


“Wangi berkarakter. Tidak cepat hilang.”


Dua hasil yang saling mendukung lebih mudah diingat daripada lima benefit kecil.


D. Tambahkan alasan kenapa produk berbeda


Setelah headline yang emosional, beri satu product reason.


Contoh:


“Smell iconic. All day.”


“Eau de parfum dengan konsentrasi yang dirancang untuk ketahanan lebih lama.”


Atau:


“Terlihat rapi. Sampai malam.”


“Bahan tidak mudah kusut dan potongannya tetap jatuh.”


Promise menarik perhatian.


Product reason membantu audiens percaya.


Apa yang bisa kita bawa ke testing?

Tiga creative ini berangkat dari ide yang berbeda.


Mitopure memakai bahan aktif dan pembuktian untuk membangun kredibilitas.


Creative hydration memakai format reminder untuk membalik asumsi audiens.


The Essence Vault mencoret pengalaman buruk sebelum menawarkan hasil yang lebih menarik.


Meski tampilannya berbeda, ketiganya punya satu pola yang sama:


Mereka tidak membuka dengan deskripsi produk.


Mereka membuka dengan satu pemikiran.


“Ini alasan ilmiahnya.”


“Mungkin masalahmu bukan itu.”


“Kamu tidak harus menerima pengalaman buruk ini.”


Formula yang bisa kita adaptasi:


“Satu keyakinan yang sudah dimiliki audiens, satu sudut pandang baru, satu hasil yang mudah dibayangkan, lalu produk sebagai jawabannya.”


Untuk testing, kita bisa membuat tiga versi dari satu produk.


Versi pertama fokus pada mekanisme atau bahan.


Versi kedua membalik asumsi yang umum.


Versi ketiga mencoret pengalaman lama yang sudah membuat audiens frustrasi.


Dari sana, kita bisa melihat mana yang lebih kuat menarik perhatian, membangun rasa percaya, dan mendorong klik.


___________________________________________________________________


Terima kasih sudah menyimak!


Kalau email member@klinikmarketing.id masih ada di folder spam / promosi, silahkan pindahkan ke folder primary / utama yaa! Supaya tidak tertinggal Newsletter seperti ini.