CREATIVE INSIGHT #050

Hanifah Silmi Az Zahra Last updated 


Hi,


Kali ini kita akan bedah 3 ads creative dari kategori perlindungan keluarga, hair support, dan makanan anak.


Ketiganya masuk lewat situasi yang sangat dekat dengan kehidupan audiens.


Creative pertama membawa kekhawatiran seorang ibu saat mengajak bayi keluar rumah.


Creative kedua memakai pengalaman yang cukup personal dan tidak nyaman untuk dibicarakan.


Creative ketiga menggabungkan promo retail dengan kebutuhan bekal sekolah yang aman.


Kita belum melihat data spend, CTR, atau ROAS dari ketiga creative ini. Jadi pembahasannya fokus pada pesan, visual, dan pola komunikasi yang layak dibawa ke testing.


Creative 01

1
1 Download

1. Apa yang sudah bagus dari iklan ini?

a. Before after bisa dipahami tanpa membaca banyak


Whiteboard dibagi menjadi dua bagian.


Di sisi before, seorang ibu terlihat khawatir sambil menggendong bayi.


Ada awan hujan.


Ada produk DEET yang dicoret.


Di sisi after, ibu dan bayi berada di luar ruangan dengan suasana cerah.


Produk muncul di dekat mereka.


Penonton bisa menangkap cerita utamanya dalam satu pandangan:


Sebelumnya takut mengajak bayi keluar karena nyamuk dan khawatir menggunakan produk tertentu.


Setelah menemukan produk, aktivitas di luar terasa lebih tenang.


Visualnya sudah bekerja sebagai problem, perubahan, dan hasil akhir.


b. Masalahnya dibawa ke momen yang emosional


Creative tidak berhenti pada masalah:


“Digigit nyamuk.”


Masalahnya dibuat lebih personal:


Seorang ibu ingin menikmati waktu di luar bersama bayinya, tetapi ada kekhawatiran soal nyamuk dan bahan yang digunakan.


Hal yang dijual bukan hanya perlindungan dari serangga.


Brand menjual rasa tenang ketika menjalani momen bersama anak.


Ini membuat produk terasa lebih bermakna daripada sekadar perlengkapan musim panas.


c. Gaya gambar tangan membuat pesan terasa ringan


Kategori perlindungan bayi bisa terasa serius.


Creative ini memilih ilustrasi sederhana di whiteboard.


Tampilannya seperti seorang ibu sedang menjelaskan pengalamannya sendiri.


Tidak ada desain yang terlalu klinis.


Tidak ada daftar kandungan panjang.


Format ini membantu topik mengenai kekhawatiran menjadi lebih mudah diterima.


Visualnya juga tidak terasa seperti iklan produk kesehatan yang kaku.


d. Bahasa yang digunakan dekat dengan target market


Kalimat:


“No mozzies, no DEET, no worry.”


menggunakan bahasa yang lebih santai.


Kata “mozzies” terasa seperti istilah yang mungkin digunakan dalam percakapan sehari hari oleh market tertentu.


Brand tidak berkata:


“Memberikan perlindungan optimal terhadap serangga.”


Mereka memakai kalimat yang terdengar seperti harapan seorang ibu:


Bisa keluar bersama bayi tanpa terlalu banyak hal yang dipikirkan.


e. Produk tetap masuk ke dalam cerita


Produk terlihat di tangan dan juga muncul dalam ilustrasi after.


Ini bagus karena creative tidak hanya menyampaikan cerita lalu lupa menunjukkan solusi.


Audiens bisa melihat bahwa perubahan dari before ke after berkaitan dengan produk yang sedang diiklankan.


2. Dari sisi strategi copywriting


CEP: Situasi Lingkungan.


Produk masuk saat cuaca mulai hangat, nyamuk lebih banyak, dan keluarga ingin beraktivitas di luar rumah.


CEP tambahan: Situasi Sosial dan Momen Rutinitas.


Produknya relevan untuk kegiatan seperti jalan sore, bermain di taman, piknik, atau menemani anak di halaman rumah.


CEP emosionalnya juga kuat.


Seorang ibu ingin menikmati waktu bersama anak tanpa terus merasa waswas.


Angle: Perlindungan Orang Tersayang dan Bebas Cemas.


Produk dijual sebagai bagian dari usaha orang tua menjaga kenyamanan anak.


Angle tambahan: Hidup Nyaman.


Hasil akhirnya bukan sekadar terhindar dari nyamuk.


Hasil akhirnya adalah bisa lebih santai menikmati aktivitas di luar.


Hook: Before After dan High Contrast.


Dua kondisi diperlihatkan berdampingan.


Sisi kiri membawa kekhawatiran.


Sisi kanan membawa kelegaan.


Hook tambahan: Call Out Specific Audience.


Walaupun tidak menyebut “untuk ibu dengan bayi” secara langsung, ilustrasinya sudah menyaring audiens yang paling relevan.


Creative ini cocok untuk Problem Aware dan Solution Aware.


Audiens sudah mengenali masalah nyamuk dan sedang mencari produk yang terasa sesuai untuk digunakan di sekitar keluarga.


Creative ini masih bisa diperkuat dengan bukti keamanan yang lebih jelas.


Kalimat seperti “no worry” dan konteks penggunaan bersama bayi bisa menimbulkan interpretasi bahwa produknya aman untuk semua usia.


Brand perlu memastikan cara penggunaan, batas usia, kandungan, dan klaim yang ditampilkan sesuai bukti yang tersedia.


Kalimat “no DEET” juga baru menjelaskan apa yang tidak digunakan.


Audiens tetap perlu tahu bahan apa yang digunakan dan kenapa bahan tersebut dipilih.


IMPLEMENTASI UNTUK KITA TESTING

A. Buat before after berdasarkan perubahan emosi


Before after tidak harus selalu menunjukkan perubahan fisik.


Kita juga bisa memperlihatkan perubahan rasa.


Formula universal:


“Sebelum memakai produk, ada satu kekhawatiran. Setelah memakai produk, aktivitas terasa lebih ringan.”


Contoh skincare:


Before: ragu memakai makeup karena kulit sedang kering.


After: lebih nyaman bersiap tanpa takut hasil makeup pecah.


Contoh fashion anak:


Before: orang tua terus membetulkan pakaian anak.


After: anak bisa bergerak dan bermain lebih leluasa.


Contoh FNB:


Before: bingung menyiapkan bekal yang akan dimakan anak.


After: bekal lebih cepat habis karena rasanya familiar.


Contoh digital product:


Before: membuka laptop dengan daftar pekerjaan yang berantakan.


After: tahu tugas mana yang harus dikerjakan lebih dulu.


B. Gunakan whiteboard untuk menjelaskan satu perubahan


Format whiteboard cocok ketika produk membutuhkan sedikit edukasi, tetapi kita tidak ingin tampil terlalu formal.


Yang bisa digambar:


Kondisi sebelum.


Hal yang membuat frustrasi.


Produk atau solusi.


Kondisi setelah.


Jangan membuat ilustrasinya terlalu detail.


Tujuannya agar ide bisa dipahami sebelum audiens selesai membaca copy.


C. Jual momen yang ingin dinikmati audiens


Jangan hanya menjual fungsi produk.


Tunjukkan aktivitas yang bisa mereka jalani setelah masalah berkurang.


Contoh:


Obat jerawat: lebih nyaman bertemu orang tanpa terus menutupi wajah.


Tas bayi: bepergian tanpa membongkar semua isi tas.


Sunscreen anak: bermain lebih lama tanpa orang tua panik mencari tempat teduh.


Aplikasi keuangan: membuka laporan tanpa merasa takut menemukan angka yang salah.


Produk menjadi lebih menarik ketika dikaitkan dengan momen nyata.


D. Jelaskan alasan pengganti, bukan hanya bahan yang dihindari


Kalau headline menyebut:


“Tanpa bahan X.”


Lanjutkan dengan:


“Menggunakan bahan Y untuk fungsi tertentu.”


Contoh:


“Tanpa pewangi tambahan. Menggunakan formula sederhana untuk kulit yang mudah sensitif.”


“Tanpa kacang. Dibuat dari oat untuk alternatif olesan bekal.”


“Tanpa input manual. Data ditarik langsung dari sumber yang sudah terhubung.”


Menghilangkan sesuatu memang menarik.


Audiens tetap perlu memahami apa yang mereka dapatkan sebagai gantinya.


Creative 02

2
2 Download


1. Apa yang sudah bagus dari iklan ini?

a. Hook terasa seperti pengakuan pribadi


Kalimat:


“I started locking the bathroom door 4 months into Wegovy.”


terdengar seperti pembuka cerita dari seseorang, bukan headline iklan.


Ada waktu yang spesifik.


Ada lokasi yang spesifik.


Ada tindakan yang cukup aneh untuk membuat orang berhenti.


Audiens langsung bertanya:


Kenapa pintunya mulai dikunci?


Apa yang terjadi setelah empat bulan?


Creative ini membangun rasa penasaran sebelum menjelaskan masalahnya.


b. Kalimat kedua menciptakan tension


“Not for privacy.”


Kalimat ini menunda jawaban.


Alasan paling masuk akal untuk mengunci pintu kamar mandi adalah menjaga privasi.


Creative langsung menolak asumsi tersebut.


Audiens dipaksa membaca bagian berikutnya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Strukturnya sederhana:


Pernyataan aneh.


Penolakan terhadap jawaban umum.


Pengungkapan yang emosional.


c. Masalahnya digambarkan dengan detail yang sulit diabaikan


“So nobody would see what was going down the drain.”


Creative tidak berkata:


“Saya mengalami kerontokan rambut.”


Mereka menggambarkan satu momen yang lebih visual.


Rambut yang terlihat di saluran air.


Rasa malu ketika orang lain mungkin melihatnya.


Kebiasaan menutup pintu agar kondisi tersebut tidak diketahui.


Masalah menjadi terasa lebih nyata karena audiens bisa membayangkan adegannya.


Bagi orang yang pernah melihat rambut menumpuk setelah mandi, kalimat ini bisa terasa sangat dekat.


d. Visualnya terasa seperti konten UGC


Close up wajah.


Lokasi di kamar mandi.


Tulisan besar seperti caption video.


Produk belum diperlihatkan.


Semua ini membuat creative terasa seperti potongan cerita dari media sosial.


Audiens mungkin berhenti karena mengira mereka sedang melihat seseorang membagikan pengalaman personal.


Format seperti ini cocok untuk masalah yang sensitif karena terasa lebih manusiawi dibanding iklan studio.


e. Target audience dipanggil dengan sangat spesifik


Penyebutan “4 months into Wegovy” menyaring audiens secara cepat.


Orang yang sedang menggunakan produk tersebut atau sedang menjalani perjalanan penurunan berat badan akan merasa creative ini berbicara langsung kepada mereka.


Brand tidak mencoba relevan untuk semua orang.


Mereka memilih satu kelompok dan satu pengalaman yang sangat spesifik.


2. Dari sisi strategi copywriting


CEP: Situasi Masalah atau Frustrasi.


Produk masuk ketika audiens mulai melihat rambut lebih banyak di kamar mandi, sisir, atau bantal.


CEP tambahan: Situasi Emosional.


Masalahnya tidak hanya mengenai kerontokan.


Creative juga menyentuh rasa malu, takut diketahui orang lain, dan kehilangan kepercayaan diri.


CEP transisi hidupnya cukup kuat.


Audiens sedang menjalani perubahan tubuh selama program penurunan berat badan, lalu menghadapi kondisi lain yang tidak mereka harapkan.


Angle: Bebas Cemas dan Perlindungan Diri.


Produk kemungkinan diposisikan sebagai dukungan bagi rambut selama audiens menjalani perubahan tersebut.


Angle tambahan: Makin Menarik.


Kekhawatiran terhadap rambut sering berhubungan dengan penampilan dan rasa percaya diri.


Hook: Personal Story, Taboo Topic, dan Curiosity Gap.


Personal story muncul dari sudut pandang orang pertama.


Taboo topic muncul dari hal yang terasa memalukan untuk dibicarakan.


Curiosity gap dibangun melalui alasan mengunci pintu kamar mandi yang tidak langsung dijelaskan.


Hook tambahan: Pain Amplification.


Masalah tidak disebut secara datar.


Creative menunjukkan dampak emosional dan kebiasaan yang berubah karena masalah tersebut.


Creative ini paling cocok untuk Problem Aware.


Audiens sudah mengalami atau menyadari masalah, tetapi belum tentu tahu solusi apa yang bisa dipertimbangkan.


Kekuatan creative ini juga menjadi sumber risikonya.


Penyebutan obat tertentu dan hubungan waktu dengan kerontokan dapat membuat audiens membaca creative sebagai klaim sebab akibat.


Brand perlu sangat hati hati saat menghubungkan kondisi medis, obat resep, dan hasil produk.


Copy berikutnya sebaiknya tidak mendiagnosis atau menjanjikan bahwa produk pasti menyelesaikan masalah.


Landing page juga perlu menjelaskan batas manfaat, kandungan, dan kapan audiens sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.


IMPLEMENTASI UNTUK KITA TESTING

A. Buka dengan kebiasaan kecil yang berubah karena masalah


Daripada langsung menyebut masalah, tunjukkan perilaku yang muncul akibat masalah tersebut.


Formula universal:


“Saya mulai melakukan hal ini setelah masalah tersebut muncul.”


Contoh skincare:


“Saya mulai menghindari cahaya dekat jendela saat kulit saya sedang breakout.”


Contoh fashion:


“Saya mulai selalu membawa cardigan karena tidak nyaman dengan bagian lengan.”


Contoh keuangan:


“Saya mulai menunda membuka aplikasi bank setiap akhir bulan.”


Contoh digital product:


“Saya mulai datang lebih pagi hanya untuk merapikan laporan sebelum meeting.”


Perubahan kebiasaan membuat masalah terasa lebih hidup.


B. Gunakan struktur tiga kalimat


Struktur:


“Saya mulai melakukan sesuatu.”


“Alasannya bukan yang kamu kira.”


“Ini yang sebenarnya terjadi.”


Contoh:


“Saya mulai membawa dua kaus setiap pergi.”


“Bukan karena suka ganti outfit.”


“Karena satu jam saja sudah terasa gerah.”


Atau:


“Saya mulai menutup laptop saat tim masuk ruangan.”


“Bukan karena menyembunyikan pekerjaan.”


“Karena dashboard kami terlalu berantakan untuk dijelaskan.”


Struktur ini menjaga rasa penasaran tanpa membutuhkan paragraf panjang.


C. Gambarkan masalah melalui benda atau adegan


Jangan hanya mengatakan:


“Rambut rontok.”


Tunjukkan:


Rambut di saluran air.


Rambut di sisir.


Rambut tertinggal di baju.


Contoh kategori lain:


Skincare: foundation yang menempel di bagian kulit kering.


FNB: snack yang masih utuh di kotak bekal.


Fashion: kancing yang terus terbuka ketika duduk.


Digital product: lima spreadsheet dengan angka yang berbeda.


Adegan kecil sering terasa lebih kuat daripada istilah besar.


D. Call out audiens dengan konteks waktu


Kalimat “4 months into” membantu cerita terasa nyata.


Kita bisa menggunakan pola yang sama.


Contoh:


“Dua minggu setelah mulai kerja dari kantor lagi.”


“Tiga bulan setelah melahirkan.”


“Sejak anak mulai membawa bekal sendiri.”


“Setelah bisnis mulai menerima 100 pesanan per hari.”


Konteks waktu membantu audiens menilai:


“Apakah ini juga sedang terjadi pada saya?”


E. Jaga klaim sensitif tetap proporsional


Untuk kategori kesehatan, hindari membuat produk terlihat seperti pengganti konsultasi medis.


Copy bisa fokus pada dukungan dan pengalaman penggunaan.


Contoh:


“Formula nutrisi untuk mendukung kebutuhan rambut selama perubahan rutinitas.”


Lebih aman daripada:


“Menghentikan kerontokan akibat obat tertentu.”


Creative tetap bisa emosional.


Klaimnya harus tetap sesuai bukti.


Creative 03

3
3 Download


1. Apa yang sudah bagus dari iklan ini?

a. Promo langsung terlihat


Kalimat:


“Buy one, get one free.”


ditempatkan di bagian tengah atas.


Audiens tidak perlu mencari informasi promonya.


Keuntungan finansial langsung menjadi salah satu fokus utama.


Untuk creative retail, kejelasan seperti ini membantu karena audiens sering hanya melihat iklan selama beberapa detik.


Mereka langsung tahu:


Ada promo.


Produknya apa.


Belinya di mana.


b. Nama retailer ikut membangun kepercayaan


Logo Whole Foods ditempatkan cukup besar.


Ini memberi dua informasi.


Produk tersedia di toko yang dikenal audiens.


Promo bisa ditemukan dalam konteks belanja yang sudah familiar.


Kehadiran retailer membuat produk terasa lebih nyata dan mudah dibeli.


Audiens tidak harus memahami website atau proses pemesanan baru.


Mereka cukup mencarinya saat berbelanja.


c. Creative masuk ke konteks bekal sekolah


Ada tulisan:


“School Safe.”


“Nut Free.”


Ada sendok, garpu, potongan buah, wortel, dan makanan kecil.


Elemen tersebut membawa produk ke satu situasi penggunaan yang jelas:


Bekal anak.


Brand tidak hanya menjual granola butter sebagai olesan.


Mereka menempatkannya sebagai salah satu pilihan untuk kebutuhan sekolah.


Ini membantu audiens memahami kapan produk tersebut akan digunakan.


d. Benefit keamanan dibuat mudah terlihat


“Nut free” dan “school safe” ditempatkan dalam lingkaran gelap.


Informasi ini mudah dibaca dan terasa relevan bagi orang tua yang perlu mempertimbangkan aturan sekolah atau kebutuhan keluarga.


Creative tidak menaruh benefit tersebut dalam teks kecil.


Mereka mengangkatnya sebagai alasan utama untuk membeli.


e. Warna dan tipografinya sesuai dengan dunia anak


Background biru muda.


Huruf warna warni.


Foto makanan.


Kemasan yang playful.


Creative terlihat cerah dan ramah.


Tampilannya membantu audiens menghubungkan produk dengan anak, bekal, dan suasana sekolah tanpa perlu penjelasan panjang.


f. Dua varian produk membantu memberi pilihan


Dua jar ditampilkan sekaligus.


Audiens melihat bahwa produk memiliki lebih dari satu rasa.


Ini bisa mendorong pembelian promo karena mekanisme buy one get one terasa lebih masuk akal ketika ada beberapa varian yang bisa dicoba.


2. Dari sisi strategi copywriting


CEP: Situasi Momen Rutinitas.


Produk masuk ketika orang tua menyiapkan sarapan atau bekal sekolah.


CEP tambahan: Situasi Fungsional dan Praktis.


Audiens membutuhkan sesuatu yang mudah digunakan, disukai anak, dan bisa masuk ke menu sehari hari.


CEP lingkungan juga kuat.


Aturan sekolah mengenai makanan tertentu membuat label nut free dan school safe menjadi relevan.


Angle: Perlindungan Orang Tersayang dan Rutinitas Lancar.


Orang tua diberi pilihan yang terasa lebih sesuai untuk kebutuhan sekolah.


Angle tambahan: Kenikmatan Instan.


Produk memberi rasa dan tekstur yang bisa langsung dinikmati tanpa persiapan rumit.


Hook: Shortcut Promise, New Opportunity, dan Fear of Missing Out.


Promo buy one get one memberi keuntungan yang cepat dipahami.


Kehadiran produk di retailer menjadi peluang baru untuk mencoba.


Kalau promonya terbatas, ada dorongan untuk membeli sebelum periodenya berakhir.


Hook tambahan: Call Out Specific Audience.


Kata “school safe” langsung memanggil orang tua yang sedang memikirkan bekal anak.


Creative ini cocok untuk Solution Aware, Product Aware, dan Most Aware.


Audiens yang sudah mengenal kategori alternatif selai akan lebih cepat memahami daya tarik produknya.


Untuk cold audience, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab:


Granola butter itu seperti apa?


Creative belum menjelaskan rasa, tekstur, atau cara penggunaannya.


Kata “nut free” sudah kuat sebagai alasan keamanan.


Product reason mengenai kenikmatan dan penggunaan sehari hari masih bisa ditambah.


Promo juga perlu dibuat lebih spesifik.


Kapan berakhir.


Apakah tersedia di semua gerai.


Apakah semua varian termasuk.


Detail seperti ini membantu audiens bertindak tanpa kebingungan.


IMPLEMENTASI UNTUK KITA TESTING

A. Gabungkan promo dengan momen penggunaan


Jangan menampilkan diskon sebagai pesan yang berdiri sendiri.


Masukkan promo ke situasi yang sedang dipikirkan audiens.


Contoh:


“Buy one get one untuk stok bekal minggu pertama sekolah.”


“Diskon dua puluh persen untuk rutinitas skincare setelah liburan.”


“Paket dua gratis satu untuk stok camilan di kantor.”


“Promo tahunan sebelum periode laporan akhir tahun.”


Promo terasa lebih relevan ketika ada alasan kenapa produk dibutuhkan sekarang.


B. Gunakan retailer sebagai bagian dari hook


Formula universal:


“Sekarang tersedia di tempat yang sudah biasa dikunjungi audiens.”


Contoh:


“Sekarang bisa ditemukan di minimarket dekat rumah.”


“Sudah tersedia di lima kota.”


“Menu favorit online akhirnya masuk ke seluruh cabang.”


“Produk yang biasanya harus preorder sekarang ada di toko.”


Lokasi menjadi alasan untuk memperhatikan iklan.


Benefit produk tetap perlu mengikuti.


C. Jadikan kebutuhan keluarga sebagai alasan membeli


Untuk produk anak, jangan hanya bicara rasa.


Orang tua biasanya mempertimbangkan beberapa hal sekaligus.


Mudah disiapkan.


Anak mau makan.


Sesuai dengan aturan sekolah.


Lebih tenang saat membawanya.


Contoh copy:


“Bekal lebih cepat disiapkan. Anak tetap punya rasa yang mereka suka.”


Atau:


“Satu olesan untuk roti, buah, dan snack setelah sekolah.”


D. Jelaskan produknya dalam satu kalimat


Cold audience perlu tahu kategori produknya.


Contoh:


“Olesan berbahan oat dengan tekstur creamy untuk roti, buah, dan camilan.”


Kalimat ini menjawab:


Apa produknya.


Terbuat dari apa.


Dipakai untuk apa.


Setelah itu, creative bisa masuk ke promo atau benefit keamanan.


E. Gunakan visual flat lay berdasarkan momen


Flat lay bisa disesuaikan dengan konteks.


Bekal sekolah:


Kotak makan, buah, sendok, botol minum.


Sarapan:


Roti, kopi, pisang, piring.


Perjalanan:


Tas, snack, tiket, botol air.


Kerja:


Laptop, catatan, minuman, produk.


Properti perlu membantu audiens mengenali situasi penggunaan.


Jangan menambah dekorasi yang tidak berkaitan dengan pesan.


Apa yang bisa kita bawa ke testing?


Tiga creative ini masuk lewat pintu yang berbeda.


Good Riddance menjual perubahan emosi dari khawatir menjadi lebih tenang.


Bloom and Bond menarik perhatian lewat cerita personal yang sulit dibicarakan.


Oat Haus menggabungkan promo dengan momen rutinitas keluarga.


Ada beberapa pola yang bisa kita ambil.


Pertama, creative tidak hanya menunjukkan produk.


Mereka menunjukkan kapan produk menjadi relevan.


Saat ingin keluar bersama bayi.


Saat melihat perubahan di kamar mandi.


Saat menyiapkan bekal sekolah.


Kedua, setiap creative memiliki satu pemicu emosional yang jelas.


Rasa khawatir.


Rasa malu.


Rasa ingin melindungi keluarga.


Ketiga, visualnya membantu menjelaskan pesan.


Before after menggambarkan perubahan.


Lokasi kamar mandi memperkuat cerita.


Flat lay makanan memperjelas konteks penggunaan.


Formula yang bisa kita adaptasi:


“Satu momen yang sangat dikenali audiens, satu emosi yang muncul dalam momen tersebut, lalu produk hadir sebagai langkah yang membuat situasinya terasa lebih mudah.”


Untuk testing, kita bisa membuat tiga versi dari produk yang sama.


Versi pertama menunjukkan before after.


Versi kedua memakai pengakuan personal.


Versi ketiga menghubungkan produk dengan rutinitas dan promo.


Dari sana, kita bisa melihat creative mana yang paling kuat membuat audiens merasa:


“Ini situasi saya.”


___________________________________________________________________


Terima kasih sudah menyimak!


Kalau email member@klinikmarketing.id masih ada di folder spam / promosi, silahkan pindahkan ke folder primary / utama yaa! Supaya tidak tertinggal Newsletter seperti ini.